Sejumlah siswa dari dua Sekolah Rakyat (sekolah komunitas) yang berbeda telah meninggalkan asrama mereka hanya seminggu setelah memulai orientasi di lembaga-lembaga yang baru didirikan tersebut.
Lima siswa dari Sekolah Rakyat di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, melarikan diri dari asrama mereka pada akhir pekan lalu, dilaporkan karena rindu rumah dan ketidaknyamanan dengan lingkungan sekolah.
Menurut Dewi Suhartini, kepala Pusat Pelatihan Kartini Kementerian Sosial, tempat sekolah itu berada, tiga siswa melarikan diri pada malam tanggal 18 Juli, sementara dua lainnya pergi pada Senin siang berikutnya.
“Ketiga mahasiswa itu melarikan diri dengan melompati pagar pada tengah malam tanpa membawa barang-barang apa pun,” kata Dewi pada hari Rabu (23 Juli), seperti dikutip Kompas.com.
“Sementara itu, dua orang lainnya просто pergi begitu saja selama jam sekolah.”
Dewi menjelaskan bahwa para siswa kesulitan beradaptasi dengan lingkungan terstruktur di sekolah berasrama, yang membutuhkan disiplin dan rutinitas yang lebih besar.
“Mereka masih beradaptasi dan belum bisa melepaskan kebiasaan lama, seperti bermain setelah jam sekolah,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pihak sekolah telah menjalin komunikasi erat dengan keluarga para siswa.
Akibatnya, dua dari lima siswa tersebut telah setuju untuk kembali ke sekolah pada akhir pekan ini.
“Psikolog internal kami juga telah meningkatkan upaya konseling untuk mencegah lebih banyak siswa melarikan diri. Bimbingan ini bertujuan untuk memahami tantangan dan kesulitan yang dihadapi para siswa,” kata Dewi.
SMA Sekolah Rakyat di Temanggung saat ini menampung 125 siswa, terdiri dari 69 perempuan dan 56 laki-laki.
Pada tanggal 18 Juli, seorang siswa dari SMA Rakyat di Banyuwangi, Jawa Timur, juga melarikan diri dari sekolah dan kembali ke rumah orang tuanya.
Menurut pihak sekolah, siswa tersebut meninggalkan परिसर sekolah pada malam hari bersama sekelompok teman yang dilaporkan mengenakan pakaian “punk”.
Dia pergi tanpa izin, sehingga staf sekolah melancarkan pencarian untuk mengetahui keberadaannya.
Ia kemudian diketahui telah kembali dengan selamat kepada keluarganya.
Menyusul insiden tersebut, pihak administrasi sekolah memutuskan untuk mengeluarkan siswa tersebut. Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan bahwa pihak sekolah tidak akan memaksa siswa yang telah melarikan diri dari Sekolah Rakyat untuk kembali jika mereka memilih untuk tidak kembali.
“Para pejabat akan terus berdialog dengan orang tua siswa dan mendorong para siswa untuk kembali,” katanya pada hari Rabu.
“Namun jika pada akhirnya mereka menolak, kami akan menawarkan tempat mereka kepada siswa lain yang memenuhi syarat. Masih banyak siswa yang ingin mendaftar di Sekolah Rakyat.”
Pada 14 Juli, pemerintah meresmikan 63 sekolah berasrama sebagai bagian dari inisiatif unggulan Presiden Prabowo Subianto, Sekolah Rakyat, yang dirancang untuk menyediakan pendidikan gratis bagi ribuan siswa dari 10 persen penduduk termiskin di negara itu.
Sejak program ini diluncurkan, tanggapannya beragam, dengan beberapa Sekolah Rakyat kesulitan menarik cukup banyak siswa sementara yang lain bergulat dengan jumlah pelamar yang sangat banyak yang ingin mendapatkan tempat.
Meskipun terdapat banyak laporan tentang siswa yang melarikan diri untuk menghindari pendaftaran di Sekolah Rakyat, beberapa di antaranya juga menunjukkan antusiasme dan keinginan untuk belajar.
Paris Erin Najma, seorang siswi di SMA Rakyat 17 di Surakarta, Jawa Tengah, mengatakan bahwa bersekolah di Sekolah Rakyat telah secara signifikan meringankan beban keuangan ayahnya, seorang pengemudi ojek online yang menghidupi tiga anak.
“Saya merasa beruntung bisa mendapatkan pendidikan berkualitas tinggi secara gratis. Sekolah juga menyediakan semua kebutuhan pokok kami, mulai dari makanan dan sabun hingga deodoran, handuk, dan bahkan deterjen,” katanya kepada The Jakarta Post baru-baru ini.
“Saya telah menjalin persahabatan yang luar biasa dan belajar untuk menjadi lebih disiplin, bertanggung jawab, dan lebih baik dalam mengatur waktu saya. Saya berharap dapat sukses di sini dan membuat keluarga saya bangga,” tambahnya.
Siswa lain di sekolah tersebut, Danindra Hanif Saputro, menyampaikan sentimen serupa, mengungkapkan rasa terima kasih atas fasilitas gratis dan kualitas staf pengajar.
“Saya memilih untuk belajar di sini karena ayah saya menderita stroke pada tahun 2020. Bersekolah di sini membantu meringankan kesulitan keuangan keluarga saya, dan saya berharap bisa sukses sehingga dapat membuat orang tua saya bangga,” katanya.
Menteri Saifullah menjelaskan bahwa masa orientasi bagi siswa Sekolah Rakyat akan diperpanjang menjadi dua minggu, jauh lebih lama daripada orientasi lima hari yang biasanya dilakukan di sekolah reguler, untuk membantu siswa beradaptasi lebih baik dengan lingkungan sekolah berasrama sebelum kelas formal dimulai.
Selama periode ini, siswa akan menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh, evaluasi akademik, dan latihan membangun kerja tim. – The Jakarta Post/ANN









Leave a Reply